Skip to main content

Posts

Showing posts from 2018
Dua obyek serupa terlahir di ufuk barat sebagai dua garis bujur pada sistem koordinat. Seberapa jauh jejak menggiring, sedekat apapun saling bersanding, tak akan betemu di satu titik singgah.  Bukan, bukan takdir yang salah atau nasib dipaksa mengalah.  Pertemuan bukan sekedar berbagi sama. Bukankah dua matahari harus hidupi semesta berbeda?  (Kita yang terhalang jarak 0.05 CM). 
Kepada yang terlanjur hilang tanpa pernah ditemukan: Dihajar habis letupan tanya Menerka-nerka makna Bagaimana mungkin kertas usang Merindukan pensil mungil Tanpa pernah saling cumbu pada suatu ruang Menebar beribu misil emosi yang menyempil Menitipkan doa tanpa kenal sudah Untuk pensil yang belum mengenal dosa
Samudera membentang, hadir ruang hampa menimbun masa memisah raga. Apa kau di sana terusik pula, tercekik pelik beribu tanya. Apa nihilnya jarak buat rekat, dan adanya celah buat mereda? PS: untuk semua yang pernah berada di antara
Tenteram terasa mencekam Sempat menyisakan hasrat tersirat Tuk hadapi aral lintang asa, suka cita rasa Kini ragu indra mampu menadah Rindu berjajar melukis risau menjalar Mengguncang imbang menerabas ambang *Efek samping membaca ulang If You Forget Me - Pablo Neruda
Teruntuk awan di bentangan langit Pulau Hatta: Raga merebah, menengadah Menatap awan yang malu bertamu Tanpa sadar sudah mengetuk, merasuk Buat hanyut, merayu tuk disambut Apakah kau rela luapkan hujan? Demi laut yang mencipta ombak menawan Perlahan mengikis karang dengan anggun Membuatnya pasrah terayun
Isak tangis meretas sunyi, semburat samudera jingga Merekah senyum pada wajah-wajah pucat pasi Gemuruh luap damba pada kelopak bunga tak berwarna Dua pasang mata menatap lirih penuh kasih Lemas terbayar lega, cemas berbalas suka Mengais sisa-sisa harapan mencipta sebulir mimpi

#24

Mungkin sudah larut di mimpi Bila telusuri dan sadari Segumpal sesal berjejal Telah terjal menjajal Hanya mencipta segenggam geram Menjamur dendam lebam Jatuh bukan rubuh Mengalah bukan kalah Maju jika mampu Bersinggah jika lelah Belum capai bukan berarti tak capai Belum rekah bukan tak akan rekah Bicara jika lebih baik dari diam Diam jika lebih baik dari bicara Meragu adalah mencari tahu Mempertajam agar paham Dan yang hilang akan kembali datang Dalam rupa beda tak terterka

Binar Malam

Ia datang tanpa pesan Menjelma malam membuyar binar Kusambut tanpa gelora merah membara merekah Atau jantung yang berdebar menggelepar Tapi tak sadar sudah meracau tentang apa saja Seperti pasir dalam kerangka waktu tidak pernah bergerak Dan masa-masa yang hilang runtuh menjauh Ia pergi lagi-lagi tanpa prediksi Menjelma sepi pada malam pekat hitam Meninggalkan hati yang masih meraba Jiwa yang meronta untuk mencari Tentang segala hal yang tak diketahui pasti Melahap lelap tidur ciptakan lantur Dan masa-masa yang hilang kembali terkenang Mungkinkah waktu bermain dengan nasibku? Ataukah hanya aliran khayal yang menggumpal? 

Rasa dan Logika

Bergulat dengan diri sendiri Gaduh dan mengaduh Tanpa sadar mengecewakan Tanpa sadar menghancurkan Terusik oleh rasa Bimbang oleh logika Yang saling menimpa enggan mengalah Dan satu-satu mengikis perlahan Menyembur sepi dan kehampaan Disimpannya segala rapat-rapat Berpura-pura agar tak terlihat

Gulir

Kusembunyikan hasrat Untuk dekat dan merekat Dulu mampu menghindar Ketika sinar memancar dan menyebar Tapi apa daya terlanjur jatuh Sendiri tak bisa lagi jadi utuh Akankah terhapus ragu Yang tak henti membelenggu Keinginan untuk menyambut rasa Yang tak kunjung reda  Membanjiri tanah  Dan buat bunga merekah