Skip to main content

Physical Distancing, Kesehatan Mental, dan Ketakutan untuk Dilupakan

Sebagian orang mungkin merasa bahwa physical distancing selama beberapa bulan ini membawa dampak positif dalam beberapa aspek kehidupan, mulai dari kepekaan diri untuk melihat dan memilah tentang apa yang penting, pengembangan potensi pribadi, sampai penemuan identitas diri. Upaya physical distancing dilakukan secara kolektif, memunculkan naluri untuk saling mendukung dan menguatkan satu sama lain. Salah satunya adalah perbaikan komunikasi dengan orang-orang terdekat. Bekerja dari rumah memungkinkan kita untuk berbincang lebih banyak dengan keluarga sembari makan malam, tanpa harus kesepian menerjang kemacetan Ibu Kota. Komunikasi dengan keluarga dan kerabat yang jauh pun terasa dekat dengan berbagai teknologi yang tersedia. Tidak sedikit orang yang lebih produktif dibandingkan sebelumnya, ketika dihalangi oleh kesibukan dari yang memang perlu hingga yang semu. Saya merasa bersyukur menjadi bagian dari yang merasakan dampak positif tersebut. Saya masih bisa berkumpul dengan keluarga dan mencari kesibukan sendiri untuk tetap produktif.

Namun, tidak semua orang memiliki privilese seperti itu. Setiap orang memiliki caranya masing-masing dalam menanggapi physical distancing guna memerangi pandemi ini. Ada yang dari awal merasa putus asa, ada yang mampu melewati ini semua dengan biasa-biasa saja, ada yang pada mulanya tidak keberatan tapi akhirnya menyerah pada keadaan, ada pula yang berpura-pura tidak apa-apa namun akhirnya jatuh juga. Sesuatu yang baru seringkali menumbuhkan kebingungan, kepanikan, ketakutan dan keputusasaan. Jika saya sebutkan di atas bahwa sifat kolektif dari upaya ini bisa membantu satu sama lain, sifat ini juga mampu membuat yang gaduh menjadi semakin gaduh. Secara masif dan dalam kurun waktu yang bersamaan muncul kegelisahan finansial, perubahan aktivitas secara signifikan, serta kebutuhan emosional yang tidak terpenuhi karena limitasi interaksi sosial. Berbagai macam berita yang simpang siur terkait peraturan yang ada, ketidakpastian waktu untuk kembali ke titik normal, serta ratusan berita hoax dari WAG keluarga besar semakin memperkeruh apa yang sudah keruh. Hal-hal tersebut berperan penting atas friksi yang terjadi antar anggota keluarga maupun kerabat dekat. Tidak bisa dipungkiri bahwa gangguan kesehatan mental adalah salah satu konsekuensi terbesar dari upaya physical distancing ini. Saya yang merasa cukup mampu menghadapi situasi ini pun seringkali dibuat kewalahan dan kebingungan dengan pemberitaan yang ada, sampai-sampai saya sempat mem-block kata “COVID” dan “corona” di Twitter demi kesehatan mental sendiri.

Untuk sebagian orang pandemi ini bisa mendekatkan, namun untuk sebagian yang lain pandemi ini bisa meretakkan. Dampak pertama dari terganggunya kesehatan mental adalah meningkatnya kasus KDRT di Indonesia. Mengutip Lembaga Bantuan Hukum APIK saat diwawancarai oleh The Jakarta Post, terdapat 59 kasus kekerasan domestik, pemerkosaan, dan kekerasan seksual dari tanggal 16 – 30 Maret 2020. Ini merupakan kasus tertinggi yang pernah tercatat dalam kurun waktu 2 minggu. Berdasarkan data historis tentang sedikitnya pelaporan kekerasan domestik, sangat mungkin bahwa angka ini hanya puncak gunung es dari sekian banyak jumlah kasus yang sebenarnya terjadi.  

Dampak kedua – dan mungkin dampak yang lebih dekat dari kehidupan saya adalah perubahan sumber hiburan yang berakhir pada keributan. Sekarang semua orang harus rehat dari hiburan tontonan bioskop, festival musik, jalan-jalan di mall, atau sesederhana berdiskusi (baca: bergosip) di kedai kopi kesayangan sambil menambah koleksi foto untuk diunggah di media sosial milik pribadi. Hilangnya apa yang sudah menjadi kebiasaan sebagian besar orang – jika tidak semua orang, memaksa kita untuk memperbanyak intensitas interaksi di dunia maya guna memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut. Minimnya ketersediaan hiburan membuat semua orang gelagapan mencari sumber kesenangan baru dari manapun, salah satu yang paling jelas terlihat adalah dari media sosial. Tidak sedikit kita menyaksikan perdebatan dan drama sengit yang melibatkan tokoh-tokoh populer di dunia maya dalam waktu yang terbilang singkat. Dari Rina Nose dan Andre Taulany yang dituntut terkait marga Latuconsina, Hana Kimura yang diduga bunuh diri akibat rentetan cyberbullying dari pihak-pihak yang bahkan tidak mengenalnya secara langsung, serta beberapa public figure yang percaya diri terhadap pendapatnya tanpa dukungan riset yang kuat.

Tidak hanya dari kalangan tokoh populer, saya pun sudah beberapa kali melihat keributan antara dua individu yang pacaran (atau sempat pacaran) di media sosial dan menjadikan itu sebagai konsumi publik, yang seharusnya adalah ranah pribadi. Perlu diingat mereka bukan politikus, youtuber ataupun artis sinetron, melainkan warga negara Indonesia seperti kebanyakan dari kita. Memang, hal yang privat dan yang publik semakin hari semakin kabur dengan adanya kemajuan teknologi tiada henti, namun physical distancing pada masa pandemi ini menjadi tinjuan tak terelakkan yang memaksa kita sadar bahwa nihilnya batas antara yang nyata dan yang virtual semakin menjadi-jadi dan sudah tidak tertolong lagi.  

Jika melihat polanya belakangan ini, feed pada media sosial penuh dengan foto bertagar throwback ataupun ucapan terima kasih nan manis dalam sesi tukar-menukar makanan saat Ramadhan kemarin. Motif dibalik perselisihan dunia maya tidak diketahui jelas dan tentunya bermacam-macam. Walaupun bentuknya sedikit berbeda, tidak menutup kemungkinan bahwa perdebatan mengenai hal-hal yang pribadi dalam dunia maya memiliki tujuan yang sama dengan beberapa contoh di atas, yaitu sebagai defense mechanism terhadap semua kekacauan yang terjadi dengan mencari rekognisi dari orang lain. Mungkin kecanduan untuk mengunggah segala hal tentang diri sendiri adalah cara untuk menunjukkan ke dunia bahwa kita masih ada, atau sesederhana sebagai media untuk mengingatkan diri sendiri bahwa kita masih nyata. Kemampuan teknologi untuk menampilkan sesuatu senyata mungkin, dengan masih memberi jarak, membuat kita kebingungan menempatkan diri – dalam kasus ini menempatkan hal-hal mana saja yang layak diperlihatkan dan dibagi sesuai porsinya.

Dalam implementasinya kita lupa bahwa untuk mencapai pengakuan tersebut kita terkadang harus mengorbankan moralitas dan prinsip pribadi, serta tidak jarang merugikan orang lain. Mengutip dari Yuval Noah Harari:

In the 21st century, the main struggle will be about irrelevance. It is much more difficult to fight against irrelevance than to fight against exploitation.”

Salah satu ketakutan terbesar manusia adalah menjadi tidak relevan lagi hingga akhirnya dilupakan. Memenuhi kebutuhan mental dan emosional melalui jejaring media sosial merupakan hal yang sangat wajar, selama tujuan kita untuk menjadi utuh tidak membuat orang lain menjadi runtuh.


Comments