Skip to main content

Menjadi Ragu: Obat Pengantar Frustrasi atau Landasan Opini?

Beberapa tahun belakangan banyak mengalami keresahan-keresahan yang sifatnya tidak pasti dan abstrak, tepatnya ketika dihadapkan dengan kenyataan pascalulus kuliah. Pertanyaan yang datang silih berganti tidak lepas dari benar atau salahnya setiap keputusan yang diambil, keyakinan yang ditetapkan, dan tujuan hidup. Dulu ketika SMA saya berharap bahwa kuliah akan mendatangkan passion yang saya nanti-nantikan, dengan dibukanya akses pembelajaran yang lebih luas dari apa yang didapatkan sewaktu SMA. Lalu ketika kuliah saya berharap hal yang sama, bahwa dunia kerja akan memberikan praktikalitas untuk menggiring hal tersebut. Memang, ini lebih terkesan seperti kabur dari tujuan hidup dibandingkan mengejarnya ya, hahaha. Rasa-rasanya sering sekali saya melangkah untuk terhempas kembali ke titik nol. Terobsesi dengan definisi passion sebagai sesuatu yang mutlak dan tidak tergoyahkan. Ketidakpastian membawa keraguan yang berevolusi menjadi keraguan yang lain, hingga akhirnya membuahkan frustrasi. Keresahan yang saya sebutkan di atas tadi. 

Apa benar passion adalah sesuatu yang mutlak dan tidak tergoyahkan? 

Apa benar passion adalah sebuah tujuan hidup yang pasti tanpa adanya keraguan? Beberapa waktu belakangan saya dipertemukan dengan sebuah teori bernama Cartesian doubt atau metode kesangsian yang dipelopori oleh RenĂ© Descartes, bahwa meragukan sesuatu adalah bentuk dari berpikir kritis; suatu proses fundamental untuk mempertanyakan segala hal yang kita alami atau rasakan tidak hanya di dunia kerja ataupun akademis, tapi juga di kehidupan kita sehari-hari. Berpikir kritis berarti harus menanggalkan segala hal yang sudah diterima dan diproses oleh indra kita selama ini. Ibaratnya jika kita adalah suatu gelas yang sudah terisi penuh dengan air, kita harus mengosongkan kembali gelas tersebut. A blank slate.

Descartes sendiri memberikan 2 alasan kenapa Cartesian doubt menjadi penting, kenapa kita harus selalu menjadi ragu. Pertama, terkadang indra kita mencoba memahami sinyal yang datang dari sekitar dengan informasi yang terbatas, dan akhirnya menciptakan ilusi. Contohnya, tongkat yang nyatanya lurus jika diletakkan di dalam air akan terlihat bengkok. Kedua, keseluruhan indra kita menciptakan sinyal dan respons yang jauh berbeda ketika kita dalam keadaan terjaga dibandingkan dengan ketika kita terlelap. Serangkaian mimpi yang aneh dan arbitrer mendorong kita untuk acuh pada semua rasa yang muncul. Namun, jika kita tidak bisa percaya dengan segala rasa yang diciptakan oleh indra ketika tertidur, atas dasar apa kita harus mempercayai mereka sepenuhnya ketika terjaga? 


Berpikir kritis adalah sebuah proses yang selalu berubah-ubah

Dunia dan segala isinya saja terus berevolusi dari awal diciptakan. Yang tidak berubah hanyalah perubahan itu sendiri. Pada kenyataannya, apa yang kita rasa benar seringkali salah. Dulu, orang beranggapan bahwa bumi datar dan matahari yang berputar mengelilinginya. Ternyata manusia sudah egois dari dulu ya, hahaha. Selama ratusan tahun teori tersebut dipercaya hingga akhirnya dibantah dan terbukti tidak valid. Contoh lainnya bisa dilihat dari buku Plato yang berjudul The Republic. Di buku tersebut dijelaskan bahwa ada sekelompok orang yang tinggal di goa dan tidak pernah melihat dunia luar. Sekian lama mereka percaya bahwa bayangan yang mereka lihat di dinding goa adalah kenyataan yang sebenar-benarnya. Hingga akhirnya mereka keluar dari goa tersebut dan sadar bahwa yang mereka anggap nyata selama ini adalah "a mere shadow of the reality". 

Berpikir kritis adalah mempertanyakan tanpa mengotak-ngotakkan 

Berpikir kritis adalah meragukan segala hal tanpa memisahkan mereka pada kompartemennya masing-masing. Memang, terkadang lingkungan memiliki ekspektasi lain yang tidak mendukung hal tersebut. Transformasi secara paksa dari hal yang sifatnya generik menjadi spesifik sangatlah lazim di dunia yang penuh dengan sekat. Kita dipaksa untuk belajar secara linear pada teori yang sudah ditetapkan dan pada prinsip yang sudah dibangun oleh orang lain, serta beradaptasi pada konformitas sosial yang berlaku. 

Sejak kecil, kita dipaksa untuk menghafalkan suatu materi pembelajaran tanpa bertanya atau mencari tahu. Kita diperintahkan untuk tidak membantah yang lebih tua, untuk melakukan apa yang sudah terjadi sekian puluh atau bahkan ratusan tahun. Padahal proses pembelajaran yang baik adalah yang bersifat aktif dan dua arah. Sebuah tradisi dengan tujuan mulia untuk menghormati yang lebih tua, namun menghasilkan konsekuensi lain yang melekat dan bersifat fundamental; logika yang menjadi landasan untuk berpijak di kehidupan sehari-hari. 

A wise manor woman said "just because it's always been done a certain way doesn't necessarily mean it's the best way". Untuk menjadi utuh kita harus memiliki prinsip dari pemikiran yang kita hasilkan sendiri, independen dari apa yang orang lain sudah suguhkan untuk kita. Mempertanyakan "kenapa" menjadi penting di sini untuk membawa kita ke setiap keputusan dari yang sifatnya sederhana hingga kompleks. Mengetahui makna dari apa yang dilakukan, baik itu dalam hal karir maupun personal penting adanya untuk menciptakan dorongan yang sifatnya intrinsik. Saya pribadi sering merasa seperti robot tanpa kesadaran utuh jika tidak memaknai apa yang saya kerjakan. Melakukan sesuatu karena keinginan sendiri jauh lebih menyenangkan dibandingkan karena dorongan dari pihak eksternal. Jika berhasil, rasa puasnya akan jauh lebih signifikan. Jika gagal, efeknya pun akan berlipat ganda :p

Kembali lagi pada keresahan yang diceritakan di awal, menjadi ragu bukan hanya manusiawi namun berperan penting pada setiap cabang pilihan yang mau tidak mau kita lalui. 

Comments