Beberapa waktu lalu saya baru saja menengok kembali album usang yang sudah lama diabaikan. Pada lembar pertama ada jepretan ulang tahun saya dan kakak yang kebetulan jatuh pada hari yang sama, saat saya berumur 7 dan kakak berumur 10 tahun. Foto lain memperlihatkan saya ketika mengambil kue ulang tahun, dan di sebelahnya adik saya sedang menangis karena suatu hal yang saya sendiri sudah lupa apa.
Setiap lembaran albumnya mengingatkan pada momen-momen yang sudah berlalu, pada tahun-tahun yang tidak akan kembali, pada kesempatan yang berani untuk diambil, dan pada kesempatan lain yang ditinggalkan entah karena takut atau justru bentuk lain dari keberanian itu sendiri. Ah, apa pentingnya sih mengingat masa lalu? Toh kami—saya kecil dan saya sekarang—sudah berjarak, dua orang yang tidak pernah bertemu dan tidak saling kenal. Menjadi dewasa mengingatkan saya bahwa tidak semua yang saya pelajari dan percaya ketika kecil benar adanya. Perjalanan dari tahun ke tahun membukakan setiap lapis pagar manis yang berdiri tegap untuk melindungi. Beberapa pagar tersebut dibangun dari apa yang dipercaya oleh orang-orang yang membesarkan saya, tapi nyatanya tidak sejalan dengan apa yang saya yakini saat ini. Kadang muncul perasaan kecewa, sedih, marah, dan yang paling parah adalah perasaan dibohongi. Mungkin saya bagian dari orang-orang yang memilih kenyataan pahit, dibandingkan menikmati dunia utopis indah yang akhirnya pudar juga.
Tapi apakah benar masa lalu hanya sebatas pengadu rasa tanpa punya peran apapun dalam hidup kita sekarang?
Dulu, bersepeda merupakan kegiatan rutin yang dilakukan untuk sekedar membeli es krim ke warung atau alat bertarung tentang siapa yang paling cepat mengayuh. Yang saya ingat, dulu kami terus mengayuh tanpa tahu tujuannya ke mana, hanya tahu bahwa pada momen itulah bahagia sederhana bisa dicapai. Dari proses mengayuh hingga lelah, dari menghirup bau tanah sehabis hujan, dari perbincangan sepele bersama teman seputar kartu Yu-Gi-Oh! yang baru dibeli atau episode Digimon yang baru ditonton.
Saya pun teringat pada beberapa momen lain. Betapa bahagianya saya ketika berhasil puasa penuh semasa SD, menunggu setiap detik sampai adzan maghrib berbunyi demi menyantap takjil yang sudah disediakan. Betapa girangnya saya membayangkan dapat upah Rp 1.000 sehari setiap berpuasa penuh. Betapa puasnya saya ketika berhasil menemukan jawaban dari soal matematika yang rumit namun membuat penasaran setengah mati. Betapa bersemangatnya saya ketika diwajibkan ikut kemah Pramuka untuk pertama kalinya, yang hanya berlokasi di lapangan bola dengan tanah cukup gersang dan minim rumput.
“Some selected image of the past is always being delivered to our senses."
— Adrienne Rich
Memori seperti ini kadang memang diperuntukkan buat saya yang sekarang lebih sering terburu-buru untuk sampai ke suatu tujuan, tanpa tahu apakah tujuan tersebut memang benar-benar saya inginkan. Terkadang manusia bersusah payah mencari hal baru untuk bahagia, tanpa mengidentifikasi celah-celah kecil di depan mata yang sebenarnya menarik jika diperhatikan. Mungkin untuk mengetahui seberapa jauh saya sudah melangkah, saya harus mengetahui di mana saya bermula. Saya harus tahu akar yang menopang selama ini.
Buat saya, dan mungkin orang dewasa pada umumnya yang semakin sulit menemukan cara untuk bahagia, nostalgia bisa menjadi pengingat halus tanpa perlu menggurui. Karena terkadang semakin dewasa kita semakin sering merasa tahu tentang segala hal. Mungkin nostalgia setidaknya membukakan ingatan masa kecil yang bukan hanya indah, tapi juga berperan sebagai alat ukur seberapa jauh kita mencapai suatu titik progres—atau regres. Tidak jarang ia memberikan suatu tujuan atau makna dari hidup itu sendiri. Nostalgia masa kecil memang sulit didefinisikan rasanya. Yang saya tahu, walaupun bentuknya sudah tidak ada tapi dampaknya melekat hingga saat ini.
PS: racauan di atas akhirnya pun tertuang di lagu bertajuk "Rajabasa" yang saya buat bersama adik saya, Almas Asfirza. Rajabasa merupakan sebuah terminal di Bandar Lampung, tempat di mana saya memupuk memori masa kecil.

Comments
Post a Comment