Skip to main content

Komedi dan Tragedi

Langkah wanita itu tertatih, letih dan terkulai. Ia adalah Bianca, seorang wanita berusia 22 tahun. Ia berdiri di tengah jalan tiada batas. Jalan mana yang akan dipilih? Kebimbangan, keresahan dan kerisauan seakan menampar wajah yang bingung. Kakinya terasa sangat sulit untuk melangkah. Satu langkah maju… diiringi dua langkah kembali… ah, seakan terperangkap oleh tiang-tiang yang menghimpit, tiang-tiang yang membawanya kemasa itu. Masa-masa yang tidak akan diingatnya kembali. Ia memaksakan langkahnya untuk maju, ditengah hiruk pikuk kota metropolitan ini. Sang ibukota yang sudah terpengaruh oleh modernisasi. Terlihat seorang ibu yang mengemis dijalanan, kupu-kupu malam berkeliaran dipinggir jalan, serta asap mobil yang menyesakkan. Ditengah hingar bingar kota ini, ia sudah menjadi seorang tuna rungu. Tidak ada suara, tidak ada melodi, sunyi… Yang ia dengar hanyalah debaran jantungnya yang teramat kuat. Canda, tawa, senang, sedih, tangisan, teriakan! Semuanya bercampur menjadi satu. Satu persatu menghampiri dirinya. Menghampirinya, kemudian pergi, lalu datang kembali, dan pergi lagi. Selalu saja begitu. Hanya bisa mempermainkan hati-hati yang lemah tidak berdaya. Ahhhh… Komedi dan tragedi kehidupan.

Hitam dan putih. Warna apa yang akan dipilih? Mereka bilang putih itu suci, mereka bilang hitam itu nista. Tapi apa buktinya? Si putih dengan kesuciannya menodai si hitam. Senyum licik terpasang diwajah-wajah itu. Hah, persetan dengan semua kepalsuan itu.

Ia menunggu dan menunggu… apa yang ia tunggu? Berlari, berlari dan terus berlari… tapi langkahnya selalu terhenti, terhenti ditempat yang sama. Ditempat dimana ia harus mengambil keputusan terakhir.

---------------------------------------------------------------------------------------------------------


Laki-laki itu terpaku di tempatnya. Ia bernama Rabel, seorang pria berusia 28 tahun. Ia menatap bangunan-bangunan kuno yang masih berdiri tegap disana. Jauh dari kebisingan kota metropolitan. Tiba-tiba ia teringat akan kepahitan masa lalunya. Dua pasang bola mata itu selalu menatap satu hal yang sama. Lukisan itu… dikeluarkannya korek api dari sakunya. Ingin apa dia? Kebimbangan, keresahan dan kerisauan seakan menampar wajah yang bingung. Wajahnya sudah membara seakan ingin melakukan sesuatu… tapi ia tidak bisa. Tidak akan penah bisa. Penat sudah memenuhi tubuhnya. Dimasukkannya kembali korek api itu. Kegelapan menghampirinya disaat matanya terbuka lebar. Seakan-akan ia menjadi seorang buta yang tak bisa melihat apapun, kecuali serpihan-serpihan memori di masa lalu. Serpihan-serpihan itu datang kembali. Amarahnya menguasai pikiran dinginnya. Satu langkah maju… dua langkah kembali… ia berdiri dan berjalan, kemudian berhenti dan terduduk. Kebahagian, digantikan dengan kesedihan, kemudian senang lagi, lalu sedih kembali. Selalu saja begitu… permainan ini tidak akan pernah berakhir. Komedi dan tragedi kehidupan.

Ia menunggu dan selalu menunggu. Apa yang ia tunggu? Ia berlari dan terus berlari. Namun langkahnya selalu terhenti pada satu titik yang sama, saat ia harus mengambil keputusan terakhir.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------

Januari, 1998

Ditengah gelapnya malam, seorang anak perempuan sedang bersama pria separuh baya. Senyuman pun terkembang di bibir mereka. Tidak ada duka, yang ada hanyalah kebahagian.

Tiba-tiba, kepanikan menghampiri mereka. Nafas meraka tertatih-tatih. Air keringat sudah membasahi sekujur tubuh mereka. Rasa sesak didada pun dirasakannya. Nasi sudah menjadi bubur. Si Jago Merah pun sudah menyebar di seluruh penjuru ruangan, tidak dapat lagi dihentikan. Sebuah balok menimpa kaki sang pria, sehingga ia sulit sekali untuk berjalan, bahkan untuk bergerak sekalipun. Anak itu merintih pilu, suaranya memecahkan keheningan malam. Si pria menyuruh sang buah hati untuk pergi, tetapi ia tidak mau! Ia ingin tetap disana, menemani sang pria yg tergolek lemah tak berdaya. Keputusannya sudah bulat, ia tidak ingin meninggalkan tempat tersebut walaupun sampai detik terakhir kehidupannya. Namun keinginan pria tersebut untuk menyuruhnya pergi pun sangat kuat, terlalu kuat untuk ditolaknya. Permintaan tersebut seakan menghipnotisnya untuk membuat sebuah keputusan. Keputusan untuk meninggalkan sang pria. Dengan langkah berat sang anak meninggalkan tempat tersebut. Pria itu tersenyum, manis sekali. Senyuman itu pun kian lama kian memudar, kedua matanya yang indah kini terpenjam. Sang merah sudah padam, tetapi semuanya sudah terlambat. Yang tlah tiada tidak akan dapat kembali. Dari luar sang anak masih menunggu dengan cemasnya, tapi ia bisa apa? Ia hanya bisa berharap, harapan kosong yang tak akan dapat terkabulkan. Tak lama sang anak pun diberitakan oleh seseorang, bahwa pria tersebut sudah tiada. Air mata jatuh dipelupuk matanya, tidak ada lagi canda tawa, digantikan dengan isakan tangis tiada henti. Ia berteriak dengan histeris, aliran darahnya terasa amat cepat, secepat angin yang menyebarkan sang merah di penjuru ruangan. Ia terperangah, tercengang, kenyataan ini terlalu pahit untuk diterima. Tatapannya tak pernah terlepas dari reruntuhan-reruntuhan bangunan tersebut.

Ia tidak begitu mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Orang-orang berkumpul mengenakan pakaian hitam. Ia hanya bisa pasrah.

Bayangan-bayangan itu masih tersimpan jelas di memorinya. Memori yang tidak ingin ia ingat kembali. Seakan ingin ia robekan otaknya agar ia tidak dapat mengingat apa yang sudah terjadi. Kejadian ini akan selalu meninggalkan rasa sakit yang mendalam, sangat dalam sampai menorehkan luka dihatinya, mengguratkan sebuah trauma dalam dirinya.

---------------------------------------------------------------------------------------------------------

Agustus, 2004

Kebahagiaan menghampiri sebuah pasang merpati yang saling mencintai. Hati mereka pun sedang berbunga-bunga. Janur kuning akan segera terpasang. Semuanya pun sudah selesai dipersiapkan. Hanya tinggal menunggu waktu. 2 minggu lagi. Ya, 2 minggu lagi.

Sang pria diperintahkan untuk dinas keluar kota, hanya untuk beberapa hari. Si wanita menginginkan sang pria untuk berada disisinya karena pelaminan sudah didepan mereka, tinggal sebentar lagi. Namun sang pria berusaha menenangkannya, bahwa ia hanya pergi untuk sementara dan akan kembali secepatnya.

Walaupun dengan berat hati, wanita itu pun akhirnya mengikhlaskan si pria untuk pergi beberapa hari keluar kota.

Saat sedang diluar kota, sang pria mendapati kabar bahwa wanitanya mengalami kecelakaaan mobil dan mengalami masa kritis dirumah sakit. Dengan cemas ia pun bergegas pergi dari situ untuk pulang. Sesampainya disana, sang pria langsung menuju rumah sakit. Tapi sayang, semuanya sudah terlambat, wanita itu menghembuskan nafas terakhirnya beberapa menit yang lalu, kecelakaan laknat iu sudah merenggut nyawanya. Pernikahan yang sudah dipersiapkan itu pun hanya tinggal sebuah harapan. 2 minggu yang akan datang seharusnya menjadi hari yang paling spesial dalam hidupnya, namun sayang, hal itu tidak akan pernah terjadi. Pria itu pun tercengang, bibirnya terkatup, tak satu katapun keluar dari mulutnya. Yang bisa ia lakukan hanyalah menyalahkan dirinya sendiri. Mengapa ia tidak mendengarkan perkataan sang wanita untuk tidak pergi keluar kota? Mengapa ia harus pergi disaat-saat terakhir ia dapat melihat kekasihnya? Amarahnya pun meluap-luap. Pekikannya membelah kesunyian. Tangisan tak dapat dibendungnya lagi.

Manis sekali kenangan ini, telalu manis sampai membuatnya menangis. Bayangan-bayangan itu masih tersimpan jelas di memorinya. Memori yang tidak ingin ia ingat kembali. Seakan ingin ia robekan otaknya agar ia tidak dapat mengingat apa yang sudah terjadi. Kejadian ini akan selalu meninggalkan rasa sakit yang mendalam, sangat dalam sampai menorehkan luka dihatinya, mengguratkan sebuah trauma dalam dirinya.

---------------------------------------------------------------------------------------------------------

Comments